Apakah Kanker Rahim Dapat Disembuhkan?

Gejala kanker rahim tidak spesifik. Studi terbaru menunjukkan bahwa penderita kanker rahim biasanya mengalami beberapa gejala yang menetap. Klik untuk selengkapnya,,

Video Sistem Reproduksi Wanita

Dalam video berdurasi 7 menit ini dijelaskan mengenai:Pengenalan alat reproduksi wanita, Siklus reproduksi, Proses terjadinya pembuahan, Proses terjadinya kehamilan, dan Proses kelahiran.

Perkembangan Janin dari Minggu ke Minggu

Merupakan tahapan perkembangan janin dari awal kehamilan hingga saarnya kelahiran tiba.

HypnoBirthing, Teknik Melahirkan Minus Rasa Takut

Hypnobirthing merupakan suatu metode yang dikhususkan untuk wanita hamil dengan melakukan relaksasi mendalam, bertujuan untuk mempersiapkan proses kelahiran normal yang lancar,nyaman dengan rasa sakit yang minimum, karena mampu memicu hormon endorphin yang merupakan hormon penghilang sakit alami tubuh.

Makin Disayang Suami Berkat Senam Kegel

Senam Kegel sering juga dikenal sebagai senam seks yang memiliki tujuan untuk memperkuat otot otot dasar panggul yaitu otot pubococcygeal.

Showing posts with label Dunia Bidan. Show all posts
Showing posts with label Dunia Bidan. Show all posts

Sunday, September 18, 2011

Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan di Amerika (Makalah Kebidanan))

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
    Sejarah menunjukkan bahwa bidan adalah salah satu profesi tertua di dunia sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu yang melahirkan. Peran dan posisi bidan dimasyarakat sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia, memberi semangat, membesarkan hati, mendampingi, serta menolong ibu yang melahirkan sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik.

    Ketika seorang ibu melahirkan, ia akan mencari dan mendapatkan bantuan atau pertolongan dari orang lain, untuk melahirkan bayinya. Pada suatu waktu yang entah kapan pada evolusi budaya atau adat, beberapa wanita terpanggil menjadi wanita yang luhur bijaksana menjadi dukun bayi. Sepanjang catatan para ahli sejarah, kebidanan yang dahulu dulakukan oleh para dukun bayi, sungguh merupakan suatu peran sosial.

    Sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan, termasuk sejarah perkembangan kesehatan dan kedokteran tua. Yakni sejak adanya wanita itu melahirkan.

    Sejak zaman pra sejarah, dalam naskah kuno sudah tercatat bidan dari Mesir yang berani ambil resiko membela keselamatan bayi-bayi laki-laki bangsa Yahudi yang diperintahkan oleh Firaun untuk di bunuh. Mereka sudah menunjukkan sikap etika moral yang tinggi dan takwa kepada Tuhan dalam membela orang-orang yang berada dalam posisi yang lemah, yang pada zaman modern ini, kita sebut peran advokasi. Bidan sebagai pekerja profesional dalam menjalankan tugas dan prakteknya, bekerja berdasarkan pandangan filosofis yang dianut, keilmuan, metode kerja, standar praktik pelayanan serta kode etik yang dimilikinya.

    Dan kemudian secara adaptasi dan naluri budaya, ada wanita lain yang berhati luhur untuk menolong persalinan dengan kecakapan dan pengetahuan yang dipunyainya.

    Itulah sebabnya maka istilah “bidan”, yang dalam bahasa Inggris disebut Midwife yang diartikan “with women”, termasuk perannya membantu kelahiran, dalam arti kelahiran normal, dan bukan suatu tindakan intervensi seperti halnya dokter ahli kebidanan yang praktek (Obtetrician and Ginecolog).

    Pekerjaaan Kebidanan berlanjut tanpa banyak perubahan sepanjang Abad, bahkan demikian juga pada Zaman abad kegelapan (Jahiliah) dan Abad pertengahan. Dalam prakteknya para bidan menggunakan obat-obat alamiah dari herbal dan sejak berabad-abad, umumnya belajar menggunakan model magang artinya belajar sambil bekerja. Sebagai orang magang, yang didapat adalah keterampilan dan pengetahuan terbagi dan terkumpul dalam dirinya, dan ini berlangsung dari generasi ke generasi tanpa ada perkembangan pendidikan yang terformat atau tersusun, seperti sistem pendidikan pada universitas. Akhirnya kemudian di negara-negara kaya mengembangkan Program-Program terformat atau tersusun sebagai seperti pada sistem pendidikan di Perguruan Tinggi, meskipun sebagian model magang juga masih digunakan sebagian.

    Sejarah perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di Amerika berkembang selaras dengan perkembangan Keperawatan, sehingga di Amerika bidan bisa saja berasal dari perawat yang kemudian mengambil jurusan kebidanan yang kemudian disebut Perawat-Bidan (Nurse-Midwifery). ACNM mendefinisikan CNM sebagai “seorang yang mengenyam pendidikan dalam dua disiplin ilmu (keperawatan dan kebidanan), memiliki bukti sertifikasi sesuai dengan ketentuan ACNM.

B. Tujuan
   Mempelajari dan memahami sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan yang terjadi dalam lingkup di negara Amerika serikat

BAB II
PEMBAHASAN

A. Riwayat Awal
    Riwayat bidan di Amerika serikat dimulai dengan masuknya kolonial di dunia baru. Bidan berada diantara wanita pertama yang tinggal di dalam koloni-koloni. Kendati secara pasti bidan telah ditengah-tengah orang Amerika Asli, sejarahnya belum dikenali dan belum diteliti secara umum.

Pada pertengahan Abad ke-17, sesuai dengan informasi yang tercatat dalam catatan dan piagam kota : Bidan merupakan profesi penting dalam kehidupan masyarakat kolonial dan diperlakukan dengan sangat hormat, dan mereka disediakan rumah, tanah, makanan dan honor sebagai bayaran untuk pelayanan mereka.

Pada abad ke-19, para bidan merintis menempuh perjalanan melewati dataran luas dengan mengendarai wagon tertutup, mengikuti jalur Oregon dan Santa fe. Sejarah Mormon mencatat peran terhormat dan fungsi kepahlawanan bidan selama perjalanan mereka dari Illinois ke Utah pada tahun 1846 – 1847.

Pada Tahun 1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka. Banyak kalangan medis yang berpendapat bahwa secara emosi dan intelektual wanita tidak dapat belajar dan menerapkan metode obstetric. Pendapat ini digunakan untuk menjatuhkan profesi bidan, sehingga bidan tidak mempunyai dukungan, uang tidak terorganisisr dan tidak diangap professional.

Kemudian pada awal Abad ke-20 penghargaan bidan mulai berkurang sehingga menjadi salah satu profesi yang tidak dihormati karena dipicu oleh faktor yang meliputi sikap agama, tuntutan ekonomi, fungsi bidan digantikan oleh dokter, pendidikan yang tidak adekuat, tidak adanya pengaturan, arus pendatang dan status wanita yang rendah.

Dokter lelaki kemudian menggantikan bidan perempuan, pada abad ke-18 dan 19 menandai perkembangan pesat ilmu kedokteran dan keperawatan serta penemuan dan pendidikan yang berhubungan dengan praktik obstetric perkembangan ini mencakup :
  • Berakhirnya penggunaan forsep (alat rahasia keluarga Chamberlen)
  • Perkembangan teknik yang menurunkan resiko praktek seksio cesaria
  • Dirintisnya penggunaan anastesia obstetric
  • Upaya mengatasi demam puerperal
  • Munculnya keperawatan modern pada tahun 1860an
  • Perlibatan obstetric pada praktek kedokteran 
Beberapa dokter yang memberikan kontribusi yang bermakna bagi ilmu pengetahuan dan seni obstetric, antara lain :

William Smallie (1697 – 1763)
Beliau menyelengarakan pengawasan dan pendidikan, yang mengembangkan pendidikan dengan menggunakan boneka peraga dan mencatat semua pasiennya dengan sangat teliti, mengidentifikasi mekanisme persalinan dan membuktikan kesalahan sejumlah mitos pemahaman yang keliru.

William Hunter (1718 – 1783)
Kontribusi beliau dalam pendidikan anatomi, mencakup; penemuan yang berkaitan dengan system linfe, sirkulasi plasenta, dan kehamilan uterus.

William Shippen, Jr. (1736 -1808)
Beliau adalah pengajar pertama dalam bidang obstetric, ia mendirikan kursus Kebidanan dan Rumah Sakit bersalin, pada Tahun 1762. Kemudian pada tahun 1810 bersama Dokter Thomas Chaakley mempromosikan Partus buatan pada bayi Premature pada ibu yang pinggulnya sempit.

Dr. Sammuel Bard (tahun 1742 – 1821)
Dokter Samuel Bard, yang berkebangsaan Amerika Serikat banyak menulis buku-buku kebidanan, diantaranya :

Cara Pengukuran Konyugata diagonalis

Kelainan-kelainan pinggul
  1. Melarang pemeriksaan dalam apabila tidak ada indikasi.
  2. Membagi persalinan dala empat kala
  3. Menasehatkan jangan menarik tali pusat untuk mencegah terjadinya inversio uteri.
  4. Mengajarkan bahwa letak muka dapat lahir spontan
  5. Melarang pemakaian cunam berulang-ulang karena banyak menimbulkan kerugian.
Dr. Walter Channing (tahun 1786 – 1876)
Channing memperoleh gelar dokter pertama kali dari Universitas Edinburgh. Ia adalah Professor kebidanan dan hukum kedokteran pertama yang diperoleh dari universitas Harvard. Ia adalah salah satu dari dokter yang pertama kali menggunakan anesthesia (bius) kepada ibu yang melahirkan, dan ia membuat risalah untuk kepentingan itu, diberi judul “Treatise on etherization in child birth, illustrated by 581 cases,” tahun 1849.

Ia juga yang pertama kali memperhatikan kondisi nifas dari ibu yang melahirkan.

Hugh L. Hodge, M.D (tahun 1796 – 1873)
Nama lengkapnya Hugh Lenox Hodge. Ia adalah dokter berkebangsaan Amerika, dilahirkan di Philadelphia, pada tanggal 27 Juni 1796, memperoleh gelar dokter dari Universitas Pennsylvania.

Ia mempelajari letak belakang kepala, mekanisme letak sungsang, pemasangan forcep harus disamping kepala anak, kecuali bila kepala masih tinggi, membagi turunnya kepala dengan bidang-bidang dasar panggul (bidang Hodge). Disamping itu ia menulis buku yang terkenal pada tahun 1866, yakni “the principle and practice of obstetrics”. Buku ini terkenal di Amerika dan luar Amerika, diterbitkan oleh Thomas Sinclair dari Philadelphia.

Semua perkembangan ini, pengetahuan baru dan pendidikan ini tidak dapat dinikmati oleh bidan karena adanya isolasi relative antara bidan yang satu dengan yang lainnya, juga karena kurangnya jumlah sekolah organisasi nasional, jurnal pengakuan hukum, atau cara lain dalam berkomunikasi yang dapat digunakan oleh bidan.

Pada pertengahan abad antara tahun 1770 dan 1820, para wanita dari golongan atas di kota-kota Amerika mulai meminta bantuan “Bidan Pria” atau dokter.bidan hanya menangani wanita yang tidak mampu membayar dokter. Dengan berubahnya kondisi kehidupan dikota, persepsi-persepsi baru para wanita dan kemajuan dalam ilmu kedokteran, kelahiran menjadi semakin meningkat dipandang sebagai satu masalah medis sehingga harus dikelola oleh dokter.

B. Awal Abad ke-20
Dua dekade pertama pada awal Abad 20 dicatat karena kurun waktu ini ditandai oleh perawatan maternitas yang tidak adekuat dan tindakan selanjutnya dilakukan untuk meningkatkan perawatan maternitas itu.

Tahun 1915, Dokter Joeseph Lee mengatakan bahwa kelahiran bayi adalah proses pathologis dan bidan tidak mempunyai peran didalamnya, dan diberlakukannya protap pertolongan persalinan di AS yaitu;

- diberikannya sedative pada awal inpartu,
- membiarkan servik berdilatasi,
- memberikan ether pada kala dua,
- melakukan episiotomi,
- melahirkan bayi dengan forcep Ekstraksi,
- memberikan uterustonika, serta
- menjahit episiotomi.

Akibat dari Protap tsb, angka kematian ibu mencapai 600-700/100.000 kel. Hidup dan 30-50% merupakan kelahiran di rumah sakit.

Pada periode ini, ada dua Asosiasi dibentuk :

Children’s Bureau (Biro anak) : dibentuk di Washington, D.C pada 1903 yang disarankan pembentukannya oleh Lilian Wald (seorang perawat dan pendiri Henry Street settlement dan Visiting Nurse Association di New York)Kegiatannya adalah meneliti kematian Bayi yang menurut data Statistik yang ada AKB mencapai 124/1000 kel hidup. Kemudian ditemukan hubungan yang tak terelakkan antara kesehatan Ibu dan kesehatan Bayi selama siklus maternitas. Dan kemudian meneliti angka kemtian ibu melahirkan dan berkesimpulan bahwa ternyata perawatan awal dan perawatan lanjutan merupakan langkah yang sangat penting utnuk menurunkan AKB dan AKI. Berkat informasi ini, gagasan perawatan maternal mendapat penghargaan dan konsep pelayanan kesehatan sepanjang periode intra konsepsi mulai berkembang.

Maternity Center Association) : dibentuk di kota New York. Pada tahun 1915 dari hasil penelitian lain oleh Komite Kesehatan yang sekali lagi menemukan adanya hubungan antara AKI dengan kurangnya perawatan prenatal, menuntun penyusunan membentuk rencana yang berpusat dikota dan pembentukan sebuah pusat Maternitas di setiap wilayah yang pertama kali dibuka pada tahun 1917. Seiring dgn perkembangan Pusat Maternitas, maka dibentuklah Asosiasi Pusat Maternitas (Maternity Center Asosiation) pada tahun 1918 dan pada tahun 1920 MCA sudah memiliki 30 anggota di New York City.

Dari hasil sebuah penelitian, MCA menyimpulkan bahwa ada kebutuhan untuk mempersiapkan perawat membantu persalinan normal dan membahas pembukaan sekolah untuk Perawat Kebidanan.

Pada tahun 1925, didirikanlah Frontier Nursing Service (FNS), yang diprakarsai oleh Mary Breckinridge (RN di AS dan State Certified midwife di inggris). Pada bulan November tahun 1939 The Frontier Graduate school of midwife didirikan dan mengubah namanya menjadi Frontier School of Midwifery and Family Nursing (program family nursing ditutup pada tahun 1991). FNS tidak memiliki program pendidikan Perawat-Kebidanan pertama di amerika serikat.

C. Progran Pendidikan Perawat-Kebidanan Pertama

Sekolah Kebidanan Manhattan

Pada tahun 1925 di Kota New York, merupakan sekolah yang pertama kali didirikan khusus untuk mendidik lulusan perawat yang ingin menjadi bidan. TMMS bergabung dengan Manhattan Maternity and Dispensary, sebuah rumah sakit khusus yang memberi pelayanan maternitas.

Sekolah ini ditutup pada tahun 1931

Sekolah Kebidanan Lobenstine

Sekolah Kebidanan Lobenstine merupakan salah satu bentukan MCA di kota New York. Sekolah ini dibuka pada bulan September tahun 1932 dan meluluskan 6 mahasiswa pada th 1933.

Pada tahun 1934, MCA dan klinik kebidanan Lobenstine bergabung dibawah naungan dan pengawasan Asosiasi Pusat Maternitas. Asosiasi ini juga memikul tanggung jawab administrative dan financial bagi School Of The Association for The Promotion and Standardization of Midwifery.

2. Program Pendidikan Selanjutnya

Ada tujuh program pendidikan perawat-bidan diseluruh Negara pada akhir tahun 1950-an, antara lain :

- 1932 : School of The Association for The Promotion and Standardization of Midwifery (menjadi Maternity center Association School of Nurse-midwifery pada tahun 1934: berafiliasi dengan Downstate Medical Center, state University of New York, tahun 1958; juga termasuk afiliasi awal MCA dan Kings Country Hospital dengan Hopkins University selama 1958 sampai 1960)

- 1939 : Frointer Graduate School of Midwifery dari FNS, Hyden, Kentucky.

- 1945 : Catholik Maternity institute Shool of Nurse-Midwifery, santa Fe, New Mexico (ditutup pada tahu 1968)

- 1947 : Catholik University of America, Washington D.C (berafiliasi dengan catholic Maternity Institute), kemudian ditutup pada tahun 1968)

- 1955 : Colombia University Graduate Program In Maternity Nursing, New York City, New York

- 1956 : The Jhon Hopkins University Nurse-Midwifery Program, Baltimore, Maryland (ditutup pada tahun 1981)

- 1956 : Yale University Graduate Maternal and Newborn health Nursing Program, New Haven, Connecticut.

Dua sekolah lain dibuka, yaitu :

- 1941 : The Tuskegee school of Nurse-Midwifery di Tuskegee, Alabama. Ditutup pada tahun 1946

- 1942 : The Flint-Goodridge scholl of Nurse-Midwifery di New Orleans, Lousiana dan akhirnya ditutup thn 1943.

D. Tahun 1940-an dan 1950-an

Sebagian besar lulusan MCA bekerja sebagai perawat pelaksana ataupun sebagai pendidik perawat bidan klinik dalam program MCA atau FNS atau terlibat dalam berbagai aspek kesehatan masyarakat. Pada tahun 1944, anggota medical mission sister dibawah naungan katolik Roma, yang merupakan lulusan program MCA mendirikan catholic Maternity Institute (CMI) di santa Fe, New Mexico.

Pada pertengahan dan akhir tahun 1940-an lulusan MCA di Universitas Yale berfokus pada upaya mengembangkan Konsep dan Praktik rawat gabung dan meneliti dampak persalinan normal (yang dipersiapkan dengan baik) dan perawatan suportif berpusat keluarga untuk wanita yang menjalani masa Antepartal, intrapartal, dan pascapartal.

Pada tahun 1950-an terjadi pengembangan tiga program pendidikan lain oleh para lulusan MCA di Universitas Colombia, Universitas Jhon Hopkins, dan universitas Yale.

Pada tahun 1940-an dan 1950-an muncul kebutuhan akan pelayanan perawat-bidan untuk berfungsi sebagai pendidik dalam bidang keperawatan Maternitas.

Tahun 1955, American College of Nurse-Midwives (ACNM) dibuka. ACNM merupakan organisasi Profesional Nasional bagi Certified Nurse-Midwives dan Certified Midwives. Kongres ACNM pertama kali diadakan pada tanggal 12 dan 13 november 1955 di kota Kansas, Missouri. Pada pertemuan tsb, memilih Hattie Hemschemeyer sebagai ketuanya. Pada tahun 1956 ACNM dan AACNM terdaftar di ICM (International Confaderation of Midwives).

E. Tahun 1960-an

Pada tahun 1960-an kesempatan untuk melakukan praktik klinik perawat kebidanan masih sangat terbatas bagi lulusan perawat-bidan. Hanya ada 2 negara dan satu kota yang secara hukum mengakui praktik perawat-kebidanan pada saat itu, yaitu New Mexico dan Kentucky dan kota New York.

Pada akhir tahun 1950-an dan 1960-an perawat-bidan melakukan upaya dengan sangat hati-hati dan terkonsentrasi untuk dapat melakukan praktik klinik dirumah sakit dengan pertimbangan sebagian besar persalinan berlangsung di rumah sakit (pada saat mencapai kurang lebih 70 %).

Perkembangan kesempatan untuk melakukan praktek klinik perawat-kebidanan tetap berjalan lambat hingga menjelang akhir tahun menjelang akhir tahun 1960an. Namun sebelum tahun 1968 perawat bidan mulai bekerja pada program perawat kebidanan Maternal Infant Care (MIC) di kota New York untuk melakukan praktek Maternalitas di klinik dalam masyarakat yang masih memiliki kaitan dengan rumah sakit.

Lima program pendidikan perawat-kebidanan dibuka pada tahun 1960an. Empat dari program tersebut ditutup :

- 1960-1981: University of Puerto Rico/Caparra Height District Hospital

- 1963-1972: New York Medical College Graduate School of Nurse-Midwifery Program, kota New York.

- 1965 : University of Utah Graduate Maternal Infant Nursing Program.

- 1966-1975: Ponce District Hospital, Ponce, Puerto Rico

- 1969-1985: University of Mississipi Medical Center Nurse-Midwifery Program.

Sejumlah tantangan turut memberi andil dalam perkembangan praktek dan pendidikan yang masih sangat lamban ini, diantaranya masih adanya pemahaman yang keliru dan stereotip yang berkaitan dengan perawat-bidan yang menimbulkan sikap permusuhan yang ditunjukkan beberapa profesional kesehatan.

F. Tahun 1970-an

Akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an merupakan kurun waktu perkembangan pesat perawat bidan bersamaan dengan peningkatan pelayanaan perawat-bidan dan program pendidikan yang tersebar luas selama dekade tersebut. Pada akhir tahun 1970an pendidikan perawat-bidan telah berkembang dan secara keseluruhan mencapai 22 program yang berkembang selama 37 tahun kemudian mengalami penggandaan dalam kurun waktu 10 tahun. Lima belas program baru dibuka selama periode tersebut. Enam program diantaranya ditutup kembali :

- 1972 : University of Illinois at Chicago Nurse midwifery Program

- 1971-1975 : Loma Linda University Nurse midwifery Program, California

- 1973 : University of Minesota Nurse Midwifery Program

- 1973 : Medical University of South Carolina Nurse Midwifery Program

- 1973 : Georgestown University Nurse Midwifery Program, Washington D.C

- 1973-1984 : St. Lois University Graduate Program in Nurse Midwufery, Missouri

- 1973-1985 : Mehery Medical College Nurse-Midwifery Program, Nashville. Tennessee

- 1973 – 1998 : University Of Kentucky Nurse-midwifery Program

- 1975 : University Of Medicien and Dentistry of new Jersey Nurse-Midwifery Program

- 1975 : University of California, Sandiago Nurse-Midwifery program

- 1974-1997 : U.S. Air Force Nurse-Midwifery Program, Anderews air force base-Maryland

- 1976 : Emory University Nurse-Midwifery Program Atlanta, Georgia

- 1977 -1985 : Universitas of Arizona Nurse-Midwifery Program

- 1978 : University of Miami Nurse-Midwifery Program Florida

- 1978 : San Fransisco General Hospital/Univesity of California san Fransisco Interdepartemental Nurse-Midwifery Education Program

Pada tahun 1973 diselenggarakan lokakarya yang dihadiri para direktur pendidikan perawat kebidanan dan pelayanan, yang berfokus pada bagaimana mengupayakan interdependensi di antara perawat-bidan. Selanjutnya para perawat-bidan mengabungkan diri supaya dapat menyediakan fasilitas klinik dan fakultas klinik untuk memperlancar pendidikan. Suka cita dan motifasi untuk melakukan praktek perawat bidan muncul dari pemberian pelayanan yang ditujukan langsung kepada para wanita,bayi, dan keluarga mereka.

Pada tahun 1970an telah disahkan mekanisme surat pengakuan bersertifikat nasional terhadap seseorang perawat bidan bersertifikat dan akreditasi program pendidikan perawat kebidanan. Satu dekade kemudian, kedua mekanisme surat pengakuan bersertifikat ACNM disahkan organisasi pelindung dengan tujuan : sertifikat diakui oleh National Commission of Health Certifying Agencies. Dan akreditasi program pendidikan perawat-bidan dasar yang juga telah diakui oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat (USDOE). Selama tahun 1970an, perawat-bidan tidak hanya diterima dalam masyarakat, tetapi juga sangat dibutuhkan. Kebidanan tardisional berkembang pada tahun 1970an sebagai respons terhadap kelompok masyarakat yang tidak puas kemudian ingin melahirkan bayinya diluar rumah sakit. Bidan ini bukan perawat tetapi menyelesaikan pendidikan formal yang membuatnya diakui sebagai perawat-bidan profesional yang memiliki surat pengakuan dan mengikuti aturan yang ditetapkan secara professional.

Sejumlah kelompok dan organisasi pendukung bidan tradisional dan persalinan di rumah muncul selama tahun 1970an : NAPSAC (National Association of Parents and Professionals for Safe Alternatives in Childbirth), HOME (Home Orientate Maternity Experience), ACHI (Asssociation of Childred at Home International) dan NMA (National Midwifes Association). Beberapa organisasi yang telah ada, seperti ICEA (International Childbirth education Association) dan La Leche League memberikan dukungan lebih besar. Pada tahun 1977 di El Paso, telah dilangsungkan Pertemuan nasional pertama yang membahas masalah bidan .

G. Tahun 1980-an

Pada Tahun 1980-an Perawat-Bidan melakukan Praktik mencakup seluruh rentang area yang mungkin dimasuki dari klinik dan program yang didanai pemerintah sampai HMO dan Rumah Sakit, dari mereka untuk Dokter sampai mereka yang memperkerjakan dan menyediakan pelayanan kesehatan dalam rentang penuh, dari pelayanan persalinan didalam Rumah Sakit sampai pelayanan persalinan diluar rumah sakit atau campuran keduanya.

Bermula dari praktik yang dilakukan hampir diseluruh pusat kesehatan eksklusif, dirumah sakit kota, bahkan di area pingiran kota pada awal tahun 1960-an, perawat-bidan telah memasuki semua tipe tatanan kesehatan yang mungkin pada akhir tahun 1970-an dan menjelang awal 1980-an.

Pada akhir tahun 1970-an dan menjelang awal 1980-an terlihat perkembangan pesat pusat persalinan diluar rumah sakit dengan maternity center association sebagai penggeraknya.

Pada Tahun 1982, bidan tradisional mengatur diri mereka sendiri dengan membentuk Midwifes Allliance of North America (MANA) dengan melibatkan bidan di Canada dan Mexico juga bidan di Amerika Serikat. MANA dibentuk untuk meningkatkan Komunikasi antar bidan serta membuat peraturan sebagai dasar kompetensi untuk melindungi bidan.

Pada tahun 1986, MANA mendirikan Interim Registery Board (IRB) dengan tujuan menyelenggarakan suatu penilaian dan mempertahankan keanggotaan bidan yang lulus dalam penilaian tsb.

Secara perlahan IRB berpisah dari MANA dan bergabung menjadi North American Registery of Midwives (NARM)

Pada tahun 1991 National Coalition of Midwifery Educator membentuk Midwifery Education and Accreditatin Council (MEAC)

H. Tahun 1990-an dan awal 2000-an

Awal tahun 1990-an menjadi saksi lonjakan pertumbuhan program pendidikan perawat-bidan yang disebabkan kerena pengakuan Negara terhadap kualitas dan keefektifan pelayanan perawat-bidan dan anggaran yang diberikan Negara untuk mendanai program tsb.

Pada tahun 1990, ACNM DOA (American College of Nurse-Miwives Divison of Accreditation) merupakan divisi pertama yang diakui oleh U.S. Departement of Education (USDOE) sebagai badan akreditasi.

Pada tahun 1994, ACNM mengambil sikap tegas dalam menetapkan standar surat pengakuan terhadap bidan yang bukan perawat. ACNM DOA mengembangkan criteria untuk program pendidikan dasar bagi bukan perawat-kebidanan.

Program Pendidikan pertama bagi bidan bukan perawat yang telah menjalani prakreditasi oleh ACNM DOA dimulai pada tahun 1996, yang meluluskan siswanya pertama kali tahun 1997, pada tahun 1999 program tsb telah mendapat akreditasi penuh.

Pada bulan mei 2001, USDOE selain memperbaharui pengakuannya terhadap ACNM DOA dalam hal prakreditasi dan akreditasi program pendidikan perawat-kebidanan dan mengakui perluasan lingkup akreditasnya yang mencakup prakreditasi dan akreditasi pendidikan kebidanan langsung bagi bidan bukan perawat.

Pada saat yang sama, Midwifery Education and Acreditation Council (MEAC) mengatur dan mengukuhkan dirinya hanya pada pengakreditasian pendidikan bidan jalan-masuk-langsung bukan perawat pada siklus maternitas dan praktik diluar rumah sakit-khususnya persalinan di rumah.

Pada tahun 2001 National Association of Certified Profesional Midwives dibentuk dalam rangka mendirikan sebuah organisasi professional dan membuat standar praktik nasional bagi CPM (Certified Proffesional Midwife).

Kebidanan yang telah memiliki izin pada permulaan tahun ini mengarahkan kedua jenis perawat dan dua tipe bukan perawat direct entry untuk menjadi bidan bersertifikat (CNM, CM, CPM), dengan proses pendidikan yang berbeda dan dua ruang lingkup praktik yang berbeda, tetapi setelah mendapat penjelasan yang tepat sehinga dapat membedakannya dengan bidan tradisional yang tidak memiliki surat izin.

Hambatan-hambatan yang dirasakan oleh bidan Amerika saat ini adalah :

Walaupun ada banyak undang-undang baru, direct entry midwife masih dianggap illegal di beberapa Negara bagian.

Lisensi praktek berbeda disetiap bagian, tidak ada standar nasional sehingga tidak ada defenisi yang jelas tentang bidan sebagai seorang yang telah terdidik dan memiliki standar kompetensi yang sama. Sedikit sekali data akurat tentang Direct Entry Midwives dan jumlag persalinan yang mereka tangani.

Kritik tajam dari profesi medis kepada Direct Entry Midwives ditambah dengan isolasi dari system pelayanan kesehatan pokok telah mempersulit sebagian besar dari mereka untuk memperoleh dukungan medis yang adekuat bila terjadi keadaan gawat darurat.

Pendidikan Kebidanan yang biasanya berbentuk praktek lapangan, sampai saat ini mereka biasa menangani persalinan dengan pengalaman sebagai bidan. Bidan adalah sesorang yang telah menyelesaikan pendidikan selama empat tahun dan praktek lapangan selama dua tahun, yang mana biayanya sangat mahal. Kebidanan memiliki organisasi untuk membentuk standar, menyediakan sertifikat, dan membuat izin praktek.

American College of Nurse-Midwifery (ACNM)

ACNM merupakan organisasi Profesional nasional bagi Certified Nurse-Midwives dan Certified Midwives. Misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayinya dalam keluarga mereka dan dimasyarakat lewat pengembangan dan dukunga profesi kebidanan seperti yang dilakukan oleh CNM dan CM. ACNM menjadi badan usaha pada tahun 1995, didirikan sebagai jawaban terhadap perkembangan berkelanjutan serangkaian keadaan yang membutuhkan kreasi secepatnya.

Pertemuan tahunan ACNM yg pertama diadakan pada tanggal 12 dan 13 November 1955 di Kansas, Missiouri. Hattie Hemschemeyer (direktur maternity Center Association School of Nures-Midwifery) yang terpilih menjadi presiden pertama ACNM.

Pada tahun 1956, ACNM dan AACNM diterima oleh ICM atas rekomendasi Negara inggris dan Skotlandia dan seluruh lembaga ICM. Tahun 1969, AANM bergabung deng ACNM membentuk ACNM.

Tahun 1972, ACNM menjadi tuan rumah dalam kongres tiga tahunan ICM di Washington,D.C., ketika Lucille Woodville (presiden ACNM periode 1960-1971 yang juga menjadi Consultant Bureau of Indian Health Affair) menjadi Presiden ICM periode 1969-1972.

Sasaran yang ingin dicapai ACNM, pertama kali diuraikan dlm articles of Incorporation pd thn 1955 dan diperbaharui pada tahun 2000, mencerminkan perhatian perawat-bidan terhadap kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi.

Keanggotaan ACNM sejak awal dibentuk memiliki karkteristik berdedikasi, berkomitmen, kerja keras, berani menyampaikan pendapat, pengorbanan diri, visi dan semangat untuk menjadi perintis. Catatan riwayat singkat ACNM melibatkan orang-orang dengan pemikiran besar kreatif, yang juga berkeinginan untuk melakukan kerja terperinci sementara, disisi lain, bersedia merogoh saku sendiri untuk membiayai hal tersebut.

Dimulai dengan 124 anggota, berkembang menjadi 860 pada tahun 1975 dan meningkat menjadi 1500 pada tahun 1980, meningkat lagi manjadi 2534 di tahun 1984 dan 5000 angg. Pada tahun 1995.

ACNM telah menyatukan setiap aspek perawat-bidan: pendidikan, praktik, pengakuan, legalisasi, surat izin, jaminan, komunikasi, penelitian dan hubungan antarprofessional dan antarorganisasi. Saat ini ACNM menyediakan atau berupaya supaya semua mekanisme ini memungkinkan untuk bertahan dan berbicara atas nama profesi perawat-kebidanan dan kebidanan seperti yang dilakukan oleh CNM dan CM.

DAFTAR PUSTAKA

Helen Varney,Jan M. Kriebs, Carolyn L. Gegor Buku Ajar Asuhan Kebidanan Ed 4 jilid 1, EGC, 2007

Dwana Estiwidani, SST, Niken Meilani, S.SiT, Hesty Widyasih, SST, Yani Widyastuti, S.SiT, Konsep Kebidanan cet. 2, Fitramaya, 2008

Cristine Handerson, Kathleen Jones, Buku Ajar Konsep Kebidanan, Mosby-EGC, 2006

www.midwiferytoday.com/international/usa.asp

www.acnm.org

www.mana.org/we.html

www.dona.org/abboutus/index

www.efn.org/%7Edjz/birth/midwifefaq/usmid.html

www.mamahalvito.blogspot.com/donwload/MAMAHALVITO-SEJARAH-KEBIDANAN.htm

www.highman-purwanto.weblog.com/download/sejarah-perkembangan-pelayanan-pendidikan-kebidanan

seja

Makalah Konsep Kebidanan Tentang Perkembangan kebidanan di Australia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

    Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional terjadi begitu cepat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dipahami oleh petugas kesehatan khususnya bidan yang bertugas sebagai bidan pendidik maupun bidan di pelayanan.

    Salah satu faktor yang menyebabkan terus berkembangnya pelayanan dan pendidikan kebidanan adalah masih tingginya mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin, khususnya di negara berkembang dan di negara miskin yaitu sekitar 25-50%.

    Mengingat hal diatas, maka penting bagi bidan untuk mengetahui sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.

1.2 Tujuan
   Mempelajari dan memahami sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan yang terjadi dalam lingkup Internasional khususnya di negara Australia

1.3 Rumusan Masalah
      Bagaimana sejarah perkembangan bidan di Australia?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pelayanan Bidan di Australia
      Florence Nightingale adalah pelopor kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan-latihan pada abad 19. Tahun 1824 kebidanan masih belum di kenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia dimulai pada tahun 1862. Lulusan itu dibekali dengan pengethuan teori dan praktek. Pendidikan Diploma Kebidanan dimulai tahun 1893, dan sejak tahun 1899 hanya bidan sekaligus perawat yang terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit.

   Sebagian besar wanita yang melahirkan tidak di rawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimbangan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkembang dengan cepat. Hal ini menyebabkan banyak wanita hamil di luar nikah dan jarang mereka dapat memperoleh pelayanan dari bidan atau dokter karena pengaruh sosial mereka atau pada komunitas yang terbatas.

    Pada dasarnya Australia sudah pada titik perubahan terbesar pada pendidikan kebidanan, sistem ini menunjukkan bahwa seorang bidan adalah seorang perawat yang teregistrasi dengan kualifikasi kebidanan. Konsekuensinya, banyak bidan-bidan yang telah mengikuti pelatihan di Amerika dan Eropa tidak dapat mendasar tanpa pelatihan perawatan. Siswa-siswa yang mengikuti pelatihan kebidanan pertama kali harus terdafatar sebagai perawat.

     Kebidanan swasta di Australia berada pada titik awal kritis pada tahun 1990 berjuang untuk bertahan pada waktu perubahan besar. Profesi keperawatan di Australia menolak hak bidan sebagai identitas profesi yang terpisah. Dengan kekuatan penuh, bidan-bidan yang sedikit militan tersupport untuk mencapai kembali hak-hak wewenang mereka dalam melakukan pertolongan persalinan.

    Pendidikan kebidanan di Australia terpengaruh oleh model kolonialisme Inggris terhadap penerimaan pendidikan perawat. Tidak ada perawat tanpa kebidanan dan kebidanan tanpa keperawatan.

    Mulai tahun 1990 ada kebidanan direct entry dimana memisahkan pendidikan kebidanan dan keperawatan. Pendidikan bidan di Australia dimulai dengan Basic perawat ditambah 2 tahun.

   Sejak tahun 2000 telah dibuka University of Technology of Sidney yaitu S2 (Doctor of Midwifery).Florence Nightingale adalah pelopor kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan-latihan pada abad 19. Tahun 1824 kebidanan masih belum di kenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia dimulai pada tahun 1862. Lulusan itu dibekali dengan pengethuan teori dan praktek. Pendidikan Diploma Kebidanan dimulai tahun 1893, dan sejak tahun 1899 hanya bidan sekaligus perawat yang terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit. Sebagian besar wanita yang melahirkan tidak dirawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimbangan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkembang dengan cepat. Hal ini menyebabkan banyak wanita hamil di luar nikah dan jarang mereka dapat memperoleh pelayanan dari bidan atau dokter karena pengaruh social mereka atau pada komunitas tyang terbatas, meskipun demikian di Australi bidan tidak bekerja sebagai perawat, mereka bekerja sebagaimana layaknya seorang bidan. Pendapat bahwa seseorang bidan haru reflek menjadi seorang perawat dan program pendidikan serta prakteknya banyak di buka di beberapa tempat dan umumnya dibuka atau disediakan oleh Non Bidan.

2.2 Pendidikan bidan di Australia
    Kebidanan di Australia telah mengalami perkembangan yang mengalami pesat sejak 10 tahun terakhir. Dasar pendidikan telah berubah dari traditional hospital base programme menjadi tertiary course of studies menyesuaikan kebutuhan pel;ayanan dari masyarakat. Tidak semua institusi pendidikan kebidanan di Australi telah melaksanakan perubahan ini, beberapa masih menggunakan proram pendidikan yang berorientasi pada rumah sakit. Kurikulum pendidikan disusun oleh staf akademik berdasarkan pada keahlian dan pengalaman mereka di lapangan kebidanan. Kekurangan yang dapat dilihat dari pendidikan kebidanan di Australia hampir sama dengan pelaksanaan pendidikan bidan di Indonesia. Belum ada persamaan persepsi mengenai pengimplementasian kurikulum pada masing-masing institusi, sehingga lulusan bidan mempunyai kompetensi klinik yang berbeda tergantung pada institusi pendidikannya. Hal ini ditambah dengan kurangnya kebijaksanaan formal dan tidak adanya standar nasional menurut National Review of Nurse Education 1994, tidak ada direct entry.

    Pada tahun 1913 sebanyak 30% persalinan ditolong oleh bidan. Meskipun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan antara tahun 1900 sampai 1940, tidak ada penurunan yang berarti pada angka kematian ibu dan bidanlah yang selalu disalahkan akan hal itu. Kenyataannya wanita jelas menengah ke atas yang ditangani oleh dokter dalam persalinannya mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin yang ditangani oleh Bidan.

2.3. Masalah Profesional
     Tugas pertama yang sulit adalah meneliti kembali nama bidan itu sendiri, itu tidak sama dengan ketika latihan dalam praktek kebidanan. Bidan sangat penting di pelayanan kesehatan sejak Perang Dunia II dan proporsi yang besar di rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan untuk daerah sekitar rumah sakit tersebut. Peningkatan rumah sakit dan persatuan perawat dan peningkatan ahli kebidanan yang lebih menekankan pada teknologi menyebabkan mundurnya kebidanan. Tapi situasi itu berakhir pada saat Amerika Utara menilai kepemimpinan perawat dan kepemimpinan bidan yang memutuskan bahwa bidan berhak mendapat penghargaan pertama dan penghargaan kedua diberikan kepada keperawatan. Penghargaan itu sangat penting untuk peningkatan profesi kebidanan.

   Kita tahu di beberapa negara mengkombinasikan keperawatan dan kebidanan dalam seorang tenaga kesehatan, hal itu terjadi di pulau kecil. Pelatihan klinik sekarang semakin baik menuju standar internasional sedikit lebih baik daripada masa yang lalu.

2.4 Pengembangan Profesi Bidan
     Pemerintah melihat adanya peningkatan kebidanan dengan pemberian asuhan yang bermanfaat. Shearman Report (NSWI, 1989) telah menemukan cara awal untuk mengatur strategi perawatan yang berkesinambungan. Having a baby in Victoria (Depkes Viktoria, 1990) melaporkan sebuah revie pelayanan kesehatan di Viktoria yang dibutuhkan pada orientasi pelayanan kesehatan pada wanita dan keluarga. Maksudnya pemeliharaan kesehatan yang lebih baiki. “Perawatan efektif pada kelahiran” CNH dan MRC, 1996 menyimpulkan bahwa perawatan yang berkesinambungan akan menjadi tujuan perawatan kesehatan ibu.

2.5 Masalah Regional
     Negara tetangga Australia yaitu Papua Nugini, Pulau Solomon memiliki angka kematian yang sangat tinggi. Rosaline Lapar, seorang pemenang piagam Maria Gibran pada ICM di Oslo yang sekarang sedang berada di Universitas Teknologi Sidney menunjukkan sebuah video yang digunakan untuk melatih asisten bidan di desa dengan cara ibu berbaring setelah melahirkan kepala dan bahu, dan melahirkan plasenta dengan menarik tali pusat secara terkendali. Cara ini banyak diakui oleh negara bagian Barat yang mengatakan hal ini tidak hanya berbeda dari biasanya untuk pendidikan bidan di Australia. Mahasiswa kebidanan harus menjadi perawat dahulu sebelum mengikuti pendidikan bidan, Sebab di Australia, kebidanan masih menjadi sub spesialisasi dalam keperawatan (maternal and child helath). Didalamnya termasuk pendidikan tentang keluarga berencanam, kesehatan wanita, perawatan ginekologi, perawatan anak, kesehatan anak dan keluarga, serta kesehatan neonatus dan remaja. Adanya peraturan ini semakin mempersempit peran dan ruang kerja bidan.

Literatur yang tersedia bagi mahasiswa kebidanan masih kurang. Kurikulum yang ada dirasakan hanya sesuai untuk mahasiswa pemula atau menengah saja, sehingga kadang-kadang mahasiswa yang telah terlatih di keperawatan kebidanan diberikan porsi yang sama seperti pemula atau sebaliknya. Mahasiswa yang sebelumnya telah mendapatkan pendidikan kebidanan di keperawatan akan membawa konsep “sakit”. Transisi dari filosofi “sakit” ke filosofi “sehat” dalam kebidanan sedikit banyak menyulitkan mahasiswa.

Beberapa tahun setelah Australia mengadakan pelatihan kebidanan, datang para pendidik yang membuka universitas yang memiliki cara tersendiri untuk menghasilkan tenaga yang berkualitas. Pada waktu yang sama pemerintah mendukung bidan dalam memperluas peran mereka. Luasnya pengalaman klinik cukup diterima masyarakat dibeberapa tempat tetapi juga mengurangi resiko yang akan terjadi. Satu hal lagiyang perlu diketahui bahwa persalinan di desa tersebut ibu berbaring di daun pisang yang bersih atau sprei.

Di negara Barat terdapat peraturan dimana wanita melahirkan tidak boleh ditemani oleh keluarganya, tetapi ada beberapa negara yang menganggap peraturan ini tidak efektif dan mengatakan bahwa ibu bersalin perlu ditemani oleh suami atau anggota keluarganya.

2.6. Penerapan Penelitian Kedalam Praktek
    Akhir dari masalah bidan di kawasan ini adalah penerapan penelitian ke dalam praktek, misalnya pada video yang digunakan di Papua Nugini yang berisi anjuran kepada bidan untuk meninggalkan tradisi mereka dan memandang pada fakta-fakta yang ada.

   Keberadaan bidan di negara ini masih dipertanyakan karena adanya pengaruh medicalisasi. Perawat kebidanan tidak boleh meniolong persalinan.

     Pendidikan kebidanan di Australia setingkat Universitas, mahasiswanya berasal dari lulusan degree perawat dan 2 tahun bidan, sedangkan pada tingkat direct entry, masih sering dipertanyakan oleh perawat. Pada tahun 2000, di University Of Technology Of Sidney, telah terbentuk S2 Kebidanan (Doctor of Midwifery).

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Sejarah singkat kebidanan di Australia dapat disimpulkan sebagai berikut:
Florence Nightingale : Pelopor kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan-latihan pada abad 19

Tahun 1824 : Kebidanan masih belum di kenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia, kebidanan masih didominasi oleh profesi dokter.

Tahun 1862 : Pendidikan bidan pertama kali di Australia dimulai. Lulusan itu dibekali dengan pengetahuan teori dan praktek.

Tahun 1893 : Pendidikan Diploma Kebidanan dimulai

Tahun 1899 : Hanya bidan sekaligus perawat yang telah terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit.

Tahun 1990 : Mulai ada kebidanan direct entry dimana memisahkan pendidikan kebidanan dan keperawatan. Pendidikan bidan di Australia dimulai dengan Basic perawat ditambah 2 tahun.

Tahun 2000 : Telah dibuka University of Technology of Sidney yaitu S2 (Doctor of Midwifery).

Wednesday, August 17, 2011

Sejarah Kebidanan di Indonesia (Perkembangannya)

Perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan nasional maupun internasional terjadi begitu cepat. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dipahami oleh petugas kesehatan khususnya bidan yang bertugas sebagai bidan pendidik maupun bidan di pelayanan

Salah satu faktor yang menyebabkan terus berkembangnya pelayanan dan pendidikan kebidanan adalah masih tingginya mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin, khususnya di negara berkembang dan di negara miskin yaitu sekitar 25-50%. Mengingat hal diatas, maka penting bagi bidan untuk mengetahui sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan karena bidan sebagai tenaga terdepan dan utama dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi diberbagai catatan pelayanan wajib mengikuti perkembangan IPTEK dan menambah ilmu pengetahuannya melalui pendidikan formal atau non formal dan bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui pendidikan maupun pelatihan serta meningkatkan jenjang karir dan jabatan yang sesuai.

PELOPOR YANG BEKERJA SAMA DALAM PERKEMBANGAN KEBIDANAN HIPOKRATES DARI YUNANI THN 460 – 370 SM
Disebut Bapak Pengobatan
1. Menaruh perhatian terhadap kebidanan / keperawatan dan pengobatan
2. Wanita yang bersalin dan nifas mendapatkan pertolongan dan pelayanan selayaknya.

SORANUS THN 98-138 SM BERASAL DARI EFESUS/TURKI Disebut Bapak Kebidanan
  • Berpendapat bahwa seorang ibu yang telah melahirkan tidak takut akan hantu atau setan dan menjauhkan ketahyulan
  • Kemudian diteruskan oleh MOSCION bekas muridnya : meneruskan usahakan dan menulis buku pelajaran bagi bidan-bidan yang berjudul : KATEKISMUS bagi bidan-bidan Roma Pengetahuan bidan semakin maju.

Sejarah Perkembangan Pelayanan Dan Pendidikan Kebidanan Di Indonesia
Perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di Indonesia tidak terbatas dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan, politik/kebijakan pemerintah dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan, kebutuhan masyarakat serta kemajuan ilmu dan teknologi.

Perkembangan Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Layanan kebidanan/oleh bidan dapat dibedakan meliputi :
  • Layanan kebidanan primer yaitu layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
  • Layanan kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
  • Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jawab layanan oleh bidan kepada system layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti rujukan.
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (zaman Gubernur Jenderal Hendrik William Deandels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan.

Adapun pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia. Tahun 1849 di buka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan pelajaran, baru tahun 1889 oleh Straat, Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu kebidanan diberikan sukarela. Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (dr. W. Bosch). Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan.
Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan. Perubahan pengetahuan dan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain di nusantara. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA).

Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana.

Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.

Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk. Pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Hal tersebut di atas adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal.

Titik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi :
1. Safe Motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2. Family Planning.
3. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Kesehatan reproduksi pada orang tua.

Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan dan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Permenkes tersebut dimulai dari :
a. Permenkes No. 5380/IX/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.
b. Permenkes No. 363/IX/1980, yang kemudian diubah menjadi Permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan bila bidan meklaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasan dokter. Pelaksanaan dari Permenkes ini, bidan dalam melaksanakan praktek perorangan di bawah pengawasan dokter.
c. Permenkes No. 572/VI/1996, wewenang ini mengatur tentang registrasi dan praktek bidan. Bidan dalam melaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang mandiri. Kewenangan tersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan tindakan. Dalam wewenang tersebut mencakup :
- Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak.
- Pelayanan Keluarga Berencana
- Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
d. Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan revisi dari Permenkes No. 572/VI/1996

Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya. Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi.
Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.

Perkembangan Pendidikan Kebidanan
Perkembangan pendidikan bidan berhubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan seiring untuk menjawab kebutuhan/tuntutan masyarakat akan pelayanan kebidanan. Yang dimaksud dalam pendidikan ini adalah, pendidikan formal dan non formal.
Pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda. Pada tahun 1851 seorang dokter militer Belanda (Dr. W. Bosch) membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia. Pendidikan ini tidak berlangsung lama karena kurangnyah peserta didik yang disebabkan karena adaanya larangan atatupun pembatasan bagi wanita untuk keluaran rumah.
Pada tahunan 1902 pendidikan bidan dibuka kembali bagi wanita pribumi di rumah sakit militer di batavia dan pada tahun 1904 pendidikan bidan bagi wanita indo dibuka di Makasar. Luluasan dari pendidikan ini harus bersedia untuk ditempatkan dimana saja tenaganya dibutuhkan dan mau menolong masyarakat yang tidak/kurang mampu secara cuma-cuma. Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah kurang lebih 15-25 Gulden per bulan. Kemudian dinaikkan menjadi 40 Gulden per bulan (tahun 1922).

Tahun 1911/1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di CBZ (RSUP) Semarang dan Batavia. Calon yang diterima dari HIS (SD 7 tahun) dengan pendidikan keperawatan 4 tahun dan pada awalnya hanya menerima peserta didik pria. Pada tahun 1914 telah diterima juga peserta didik wanita pertama dan bagi perawat wanita yang luluas dapat meneruskan kependidikan kebidanan selama dua tahun. Untuk perawat pria dapat meneruskan ke pendidikan keperawatan lanjutan selama dua tahun juga.

Pada tahun 1935-1938 pemerintah Kolonial Belanda mulai mendidik bidan lulusan Mulo (Setingkat SLTP bagian B) dan hampir bersamaan dibuka sekolah bidan di beberapa kota besar antara lain Jakarta di RSB Budi Kemuliaan, RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyo di Semarang. DI tahun yang sama dikeluarkan sebuah peraturan yang membedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan. Bidan dengan dasar pendidikannya Mulo dan pendidikan Kebidanan selama tiga tahun tersebut Bidan Kelas Satu (Vreodrouweerste Klas) dan bidan dari lulusan perawat (mantri) di sebut Bidan Kelas Dua (Vreodrouw tweede klas). Perbedaan ini menyangkut ketentuan gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Pada zaman penjajahan Jepang, pemerintah mendirikan sekolah perawat atau sekolah bidan dengan nama dan dasar yang berbeda, namun memiliki persyaratan yang sama dengan zaman penjajahan Belanda. Peserta didik kurang berminat memasuki sekolah tersebut dan mereka mendaftar karena terpaksa, karena tidak ada pendidikan lain.

Pada tahun 1950-1953 dibuka sekolah bidan dari lulusan SMP dengan batasan usia minimal 17 tahun dan lama pendidikan tiga tahun. Mengingat kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak, maka dibuka pendidikan pembantu bidan yang disebut Penjenjang Kesehatan E atau Pembantu Bidan. Pendidikan ini dilanjutkan sampai tahun 1976 dan setelah itu ditutup. Peserta didik PK/E adalah lulusan SMP ditambah 2 tahun kebidanan dasar. Lulusan dari PK/E sebagian besar melanjutkan pendidikan bidan selama dua tahun.

Tahun 1953 dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta, lamanya kursus antara 7 sampai dengan 12 minggu. Pada tahun 1960 KTB dipindahkan ke Jakarta. Tujuan dari KTB ini adalah untuk memperkenalkan kepada lulusan bidan mengenai perkembangan program KIA dalam pelayanan kesehatan masyarakat, sebelum lulusan memulai tugasnya sebagai bidan terutama menjadi bidan di BKIA. Pada tahun 1967 KTB ditutup (discountinued).

Tahun 1954 dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di Bandung. Pada awalnya pendidikan ini berlangsung satu tahun, kemudian menjadi dua tahun dan terakhir berkembang menjadi tiga tahun. Pada awal tahun 1972 institusi pendidikan ini dilebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP). Pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan sekolah bidan.

Pada tahun 1970 dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah dua tahun pendidikan bidan yang disebut Sekolah Pendidikan Lanjutan Jurusan Kebidanan (SPLJK). Pendidikan ini tidak dilaksanakan secara merata diseluruh propinsi. Pada tahun 1974 mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24 kategori), Departemen Kesehatan melakukan penyederhanaan pendidikan tenaga kesehatan non sarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dengan tujuan adanya tenaga multi purpose di lapangan dimana salah satu tugasnya adalah menolong persalinan normal. Namun karena adanya perbedaan falsafah dan kurikulum terutama yang berkaitan dengan kemampuan seorang bidan, maka tujuan pemerintah agar SPK dapat menolong persalinan tidak tercapai atau terbukti tidak berhasil.

Pada tahun 1975 sampai 1984 institusi pendidikan bidan ditutup, sehingga selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan. Namun organisasi profesi bidan (IBI) tetap ada dan hidup secara wajar.

Tahun 1981 untuk meningkatkan kemampuan perawat kesehatan (SPK) dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk kebidanan, dibuka pendidikan Diploma I Kesehatan Ibu dan Anak. Pendidikan ini hanya berlangsung satu tahun dan tidak dilakukan oleh semua institusi.
Pada tahun 1985 dibuka lagi program pendidikan bidan yang disebut (PPB) yang menerima lulusan SPR dan SPK. Lama pendidikan satu tahun dan lulusannya dikembalikan kepada institusi yang mengirim.

Tahun 1989 dibuka crash program pendidikan bidan secara nasional yang memperbolehkan lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Program ini dikenal sebagai Program Pendidikan Bidan A (PPB/A). Lama pendidikan satu tahun dan lulusannya ditempatkan di desa-desa. Untuk itu pemerintah menempatkan seorang bidan di tiap desa sebagai pegawai negeri sipil (PNS Golongan II). Mulai tahun 1996 status bidan di desa sebagai pegawai tidak tetap (Bidan PTT) dengan kontrak selama tiga tahun dengan pemerintah, yang kemudian dapat diperpanjang 2 x 3 tahun lagi.

Penempatan BDD ini menyebabkan orientasi sebagai tenaga kesehatan berubah. BDD harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya tidak hanya kemampuan klinik, sebagai bidan tapi juga kemampuan untuk berkomunikasi, konseling dan kemampuan untuk menggerakkan masyarakat desa dalam meningkatkan taraf kesehatan ibu dan anak. Program Pendidikan Bidan (A) diselenggarakan dengan peserta didik cukup besar. Diharapkan pada tahun 1996 sebagian besar desa sudah memiliki minimal seorang bidan. Lulusan pendidikan ini kenyataannya juga tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan seperti yang diharapkan sebagai seorang bidan profesional, karena lama pendidikan yang terlalu singkat dan jumlah peserta didik terlalu besar dalam kurun waktu satu tahun akademik, sehingga kesempatan peserta didik untuk praktek klinik kebidanan sangat kurang, sehingga tingkat kemampuan yang dimiliki sebagai seorang bidan juga kurang.

Pada tahun 1993 dibuka Program Pendidikan Bidan Program B yang peserta didiknya dari lulusan Akademi Perawat (Akper) dengan lama pendidikan satu tahun. Tujuan program ini adalah untuk mempersiapkan tenaga pengajar pada Program Pendidikan Bidan A. Berdasarkan hasil penelitian terhadap kemampuan klinik kebidanan dari lulusan ini tidak menunjukkan kompetensi yang diharapkan karena lama pendidikan yang terlalu singkat yaitu hanya setahun. Pendidikan ini hanya berlangsung selama dua angkatan (1995 dan 1996) kemudian ditutup.
Pada tahun 1993 juga dibuka pendidikan bidan Program C (PPB C), yang menerima masukan dari lulusan SMP. Pendidikan ini dilakukan di 11 Propinsi yaitu : Aceh, Bengkulu, Lampung dan Riau (Wilayah Sumatera), Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan (Wilayah Kalimantan. Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Irian Jaya. Pendidikan ini memerlukan kurikulum 3700 jam dan dapat diselesaikan dalam waktu enam semester.

Selain program pendidikan bidan di atas, sejak tahun 1994-1995 pemerintah juga menyelenggarakan uji coba Pendidikan Bidan Jarak Jauh (Distance learning) di tiga propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kebijakan ini dilaksanakan untuk memperluas cakupan upaya peningkatan mutu tenaga kesehatan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Pengaturan penyelenggaraan ini telah diatur dalam SK Menkes No. 1247/Menkes/SK/XII/1994

Diklat Jarak Jauh Bidan (DJJ) adalah DJJ Kesehatan yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan bidan agar mampu melaksanakan tugasnya dan diharapkan berdampak pada penurunan AKI dan AKB. DJJ Bidan dilaksanakan dengan menggunakan modul sebanyak 22 buah. Pendidikan ini dikoordinasikan oleh Pusdiklat Depkes dan dilaksanakan oleh Bapelkes di Propinsi. DJJ Tahap I (1995-1996) dilaksanakan di 15 Propinsi, pada tahap II (1996-1997) dilaksanakan di 16 propinsi dan pada tahap III (1997-1998) dilaksanakan di 26 propinsi. Secara kumulatif pada tahap I-III telah diikuti oleh 6.306 orang bidan dan sejumlah 3.439 (55%) dinyatakan lulus.

Pada tahap IV (1998-1999) DJJ dilaksanakan di 26 propinsi dengan jumlah tiap propinsinya adalah 60 orang, kecuali Propinsi Maluku, Irian Jaya dan Sulawesi Tengah masing-masing hanya 40 orang dan Propinsi Jambi 50 orang. Dari 1490 peserta belum diketahui berapa jumlah yang lulus karena laporan belum masuk. Selain pelatihan DJJ tersebut pada tahun 1994 juga dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawat daruratan maternal dan neonatal (LSS = Life Saving Skill) dengan materi pembelajaran berbentuk 10 modul. Koordinatornya adalah Direktorat Kesehatan Keluarga Ditjen Binkesmas.

Sedang pelaksanaannya adalah Rumah sakit propinsi/kabupaten. Penyelenggaraan ini dinilai tidak efektif ditinjau dari proses. Pada tahun 1996, IBI bekerja sama dengan Departemen Kesehatan dan American College of Nurse Midwive (ACNM) dan rumah sakit swasta mengadakan Training of Trainer kepada anggota IBI sebanyak 8 orang untuk LSS, yang kemudian menjadi tim pelatih LSS inti di PPIBI. Tim pelatih LSS ini mengadakan TOT dan pelatihan baik untuk bidan di desa maupun bidan praktek swasta. Pelatihan praktek dilaksanakan di 14 propinsi dan selanjutnya melatih bidan praktek swasta secara swadaya, begitu juga guru/dosen dari D3 Kebidanan. 1995-1998, IBI bekerja sama langsung dengan Mother Care melakukan pelatihan dan peer review bagi bidan rumah sakit, bidan Puskesmas dan bidan di desa di Propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 2000 telah ada tim pelatih Asuhan Persalinan Normal (APN) yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal health (MNH) yang sampai saat ini telah melatih APN di beberapa propinsi/kabupaten. Pelatihan LSS dan APN tidak hanya untuk pelatihan pelayanan tetapi juga guru, dosen-dosen dari Akademi Kebidanan. Selain melalui pendidikan formal dan pelatihan, utnuk meningkatkan kualitas pelayanan juga diadakan seminar dan Lokakarya organisasi. Lokakarya organisasi dengan materi pengembangan organisasi (Organization Development = OD) dilaksanakan setiap tahun sebanyak dua kali mulai tahun 1996 sampai 2000 dengan biaya dari UNICEF.

Tahun 2000 Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan tentang D-IV Kebidanan di FK UGM,FK UNPAD Tahun 2002 di FK USU. Tahun 2005 Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan tentang S2 Kebidanan di FK UNPAD.

Sumber: http://www.unicef.org dan http://bidanshop.blogspot.com

Sejarah Kebidanan Masa Lampau


Di Mesir kuno, kebidanan adalah pekerjaan perempuan yang diakui, seperti yang dibuktikan oleh papirus yang berasal Ebers 1900-1550 SM. Lima kolom papirus ini berhubungan dengan kebidanan dan ginekologi, terutama mengenai percepatan proses kelahiran dan kelahiran bayi yang baru lahir prognosis. The Westcar papirus, tanggal sampai 1700 SM, termasuk instruksi untuk menghitung perkiraan tanggal kurungan dan menggambarkan gaya yang berbeda kelahiran kursi. Bas relief di kamar kelahiran kerajaan di Luxor dan candi-candi lain juga membuktikan kehadiran berat kebidanan dalam budaya ini.

Kebidanan di Yunani-Romawi kuno meliputi sejumlah wanita, termasuk wanita-wanita tua yang meneruskan tradisi medis rakyat di desa-desa Kekaisaran Romawi, bidan terlatih pengetahuan mereka yang dikumpulkan dari berbagai sumber, dan sangat terlatih perempuan yang dianggap dokter wanita .

Namun, ada karakteristik tertentu yang diinginkan dalam suatu “baik” bidan, seperti yang dijelaskan oleh dokter Soranus Efesus di abad kedua. Dia menyatakan dalam karyanya, Ginekologi, bahwa “orang yang sesuai akan melek, dengan akal tentang dia, memiliki ingatan yang baik, mencintai pekerjaan, terhormat dan umumnya tidak terlalu cacat sebagai indranya regards [yaitu, penglihatan, penciuman, pendengaran ], suara ekstremitas, kuat, dan, menurut beberapa orang, diberkahi dengan jari-jarinya ramping panjang dan pendek kuku di ujung-ujung jarinya. “Soranus juga merekomendasikan bahwa bidan menjadi simpatik disposisi (walaupun dia tidak perlu melahirkan anak sendiri) dan bahwa ia menjaga tangannya lembut untuk kenyamanan ibu dan anak.

Pliny, dokter lain dari zaman ini, bernilai Kemuliaan dan yang tenang dan tak mencolok disposisi dalam bidan.
Seorang perempuan yang memiliki kombinasi fisik, kebajikan, keterampilan, dan pendidikan pasti sudah sulit ditemukan di jaman dahulu. Oleh karena itu, tampaknya telah tiga “nilai” dari bidan hadir di zaman kuno. Yang pertama adalah ahli teknis, yang kedua mungkin telah membaca beberapa teks pada kebidanan dan ginekologi, tetapi yang ketiga sangat terlatih dan cukup dianggap sebagai dokter spesialis dengan konsentrasi di kebidanan.

Bidan yang dikenal dengan berbagai judul di zaman kuno, mulai dari iatrinē, maia, obstetrix, dan MEDICA. Tampaknya kebidanan diperlakukan berbeda di ujung Timur Laut Tengah baskom sebagai lawan Barat. Di Timur, beberapa wanita maju di luar profesi bidan (maia) dengan yang dokter kandungan (iatros gynaikeios), yang diperlukan pelatihan formal. Juga, ada beberapa traktat kebidanan beredar di kalangan medis dan berpendidikan dari Timur yang ditulis oleh perempuan dengan nama Yunani, walaupun wanita ini sangat sedikit jumlahnya. Berdasarkan fakta-fakta ini, akan terlihat bahwa kebidanan di Timur terhormat adalah profesi yang terhormat perempuan bisa mendapatkan mata pencaharian mereka dan cukup harga diri untuk menerbitkan karya membaca dan dikutip oleh dokter laki-laki. Pada kenyataannya, sejumlah ketentuan hukum Romawi sangat menyarankan bahwa bidan menikmati status dan upah yang setara dengan laki-laki dokter. [5] Satu contoh dari bides yang dikutip dari Salpe Lemnos, yang menulis tentang penyakit wanita dan disebutkan beberapa kali dalam karya Pliny.

Namun, di Romawi Barat, pengetahuan kita tentang cara mempraktekkan bidan datang terutama dari epitaphs penguburan. Dua hipotesis yang diusulkan dengan melihat sampel kecil epitaphs ini. Yang pertama adalah bidan bukanlah profesi yang freeborn keluarga perempuan yang telah menikmati status bebas dari beberapa generasi tertarik; oleh karena itu tampaknya bahwa sebagian besar bidan adalah dari budak asal. Kedua, karena sebagian besar epitaphs pemakaman ini menggambarkan perempuan sebagai dibebaskan, maka dapat diusulkan bahwa bidan umumnya cukup dihargai, dan memperoleh pendapatan yang cukup, untuk bisa mendapatkan kebebasan mereka. Tidak diketahui dari epitaphs ini bagaimana perempuan budak tertentu dipilih untuk pelatihan sebagai bidan. Gadis budak mungkin telah magang, dan kemungkinan besar bahwa ibu mengajarkan anak-anak perempuan mereka.

Sebenarnya tugas para bidan di zaman kuno terutama terdiri dari membantu proses kelahiran, meskipun mereka dapat juga membantu dalam masalah-masalah medis lainnya yang berhubungan dengan wanita jika diperlukan. Sering kali, bidan juga akan memanggil dokter yang akan on-call dengan dia di dalam kasus yang lebih sulit prosedur yang dibutuhkan selama persalinan abnormal dan dalam kebanyakan kasus ia membawa dua atau tiga asisten.

Pada zaman kuno, hal itu percaya oleh kedua bidan dan dokter yang melahirkan normal dibuat lebih mudah ketika seorang wanita duduk tegak. Oleh karena itu, selama proses kelahiran, bidan membawa bangku ke rumah di mana pengiriman berlangsung. Di kursi kursi adalah lubang berbentuk bulan sabit di mana bayi akan disampaikan. Kursi juga memiliki lengan kursi bagi ibu untuk pegang selama pengiriman. Sebagian besar kursi yang telah punggung pasien bisa menekan, tapi Soranus menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, kursi-kursi asisten backless dan harus berdiri di belakang pasien dan dukungan padanya.

Bidan lalu menghadap pasien, lembut dilatasi dan menarik janin ke depan, sambil memerintahkan para ibu pada pernapasan dan bagaimana untuk mendorong ke bawah selama kontraksi. Asisten membantu dengan mendorong ke bawah pada perut pasien. Akhirnya, bidan menerima bayi, meletakkannya di potongan-potongan kain, memotong tali pusat, dan dibersihkan bayi.

Anak itu ditaburi dengan “halus dan tepung garam, atau natron atau aphronitre” untuk menyerap residu kelahiran , dibilas, dan kemudian bubuk dan dibilas lagi. Selanjutnya, para bidan dibersihkan setiap dan semua hadir lendir dari hidung, mulut, telinga, atau anus. Bidan didorong oleh Soranus untuk menaruh minyak zaitun di mata bayi untuk membersihkan diri setiap kelahiran residu, dan untuk menempatkan sepotong wol direndam dalam minyak zaitun di atas tali pusar. Setelah melahirkan, bidan panggilan pertama dibuat pada apakah atau tidak seorang bayi sehat dan cocok untuk belakang. Dia memeriksa bawaan bayi yang baru lahir cacat dan pengujian yang menangis mendengar apakah atau tidak itu kuat dan ramah. Pada akhirnya, bidan membuat penentuan tentang peluang untuk kelangsungan hidup bayi dan kemungkinan merekomendasikan agar bayi yang baru lahir dengan cacat parah terkena.

Abad kedua terakota Ostian bantuan dari makam Scribonia Attice, istri dokter-dokter bedah M. Ulpius Amerimnus, detail sebuah adegan melahirkan. Scribonia adalah seorang bidan dan lega menunjukkan dirinya di tengah-tengah pengiriman. Seorang pasien duduk di kursi bersalin, mencengkeram pegangan dan asisten bidan berdiri di belakang memberikan dukungan. Scribonia duduk di bangku rendah di depan wanita, merendah memalingkan muka sementara juga membantu pengiriman oleh dilatasi dan memijat leher rahim, seperti yang didorong oleh Soranus.

Jasa bidan tidak murah; kenyataan ini menunjukkan bahwa perempuan miskin yang tidak mampu jasa bidan profesional sering harus membuat hubungannya dengan saudara perempuan. Banyak keluarga kaya memiliki bidan mereka sendiri. Namun, sebagian besar perempuan di dunia Yunani-Romawi sangat mungkin menerima perawatan bersalin dari menyewa bidan, baik yang sangat terlatih atau yang memiliki pengetahuan dasar kebidanan. Selain itu, banyak keluarga memiliki pilihan apakah atau tidak mereka ingin mempekerjakan seorang bidan yang terlatih obat rakyat tradisional atau metode baru proses kelahiran profesional.

Seperti banyak faktor lain di zaman kuno, seringkali perawatan kebidanan berkualitas sangat bergantung kepada status sosial ekonomi pasien.

Perspektif sejarah
Pada abad ke-18, sebuah divisi antara dokter dan bidan muncul, sebagai orang medis mulai menegaskan bahwa proses ilmiah modern mereka adalah lebih baik bagi ibu dan bayi daripada kaum-medis bidan.

Pada awal abad ke-18 di Inggris, kebanyakan bayi tertangkap oleh bidan, tetapi pada awal abad ke-19, sebagian besar bayi-bayi yang lahir pada orang-orang berarti memiliki ahli bedah yang terlibat. Sejumlah penelitian baik panjang penuh bersejarah ini pergeseran telah ditulis.

Ilmuwan sosial Jerman Gunnar Heinsohn dan Otto Steiger sudah mengajukan teori bahwa kebidanan menjadi sasaran penganiayaan dan penindasan oleh otoritas publik, karena bidan tidak hanya dimiliki sangat khusus tentang pengetahuan dan keterampilan yang membantu kelahiran, tapi juga mengenai kontrasepsi dan aborsi. [11] Menurut untuk Heinsohn dan Steiger teori, negara modern menganiaya bidan sebagai penyihir dalam usaha untuk terisi kembali benua Eropa yang mengalami kerugian parah tenaga kerja sebagai hasil dari pes (juga dikenal sebagai kematian hitam) yang menyapu benua gelombang, mulai tahun 1348.

Mereka demikian menafsirkan perburuan penyihir sebagai menyerang kebidanan dan pengetahuan tentang pengendalian kelahiran dengan tujuan demografis dalam pikiran. Memang, setelah penyihir perburuan, jumlah anak per ibu meningkat tajam, sehingga menimbulkan apa yang disebut “ledakan penduduk Eropa” modern kali, menghasilkan tonjolan pemuda yang sangat besar yang memungkinkan Eropa untuk menjajah sebagian besar sisa dunia.

Sumber: http://bidansmart.wordpress.com

Tuesday, August 9, 2011

Tanggung Jawab Menjadi Bidan

1. Menjaga
Bidan bertugas menjaga ibu dan bayi dari resiko kematian, oleh karena itu bidan harus terampil, namun semua bergantung kembali pada kehendak Tuhan.

2. Mengenali
Bidan harus mengenali diri sendiri terhadap kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya.

3. Bertanggungjawab
Bidan bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan yang akan diambilnya.

4. Komunikasi
Komunikasi yang baik akan membangun relasi yang baik dan kepuasan terhadap pasiennya.

5. Bekerjasama
Bidan harus bekerjasama dalam proses rujukan yang optimal.

6. Memelihara mutu
Bidan minimal harus mempertahankan mutu yang baik, lebih bagus lagi jika mutu kebidanannya lebih di tingkatkan

7. Bekerjasama dengan masyarakat
Bidan juga harus mengadakan pendekatan-pendekatan sehingga terbangunnya relasi yang baik antara bidan dengan masyarakat, jangan sampai karena tidak aka komunikasi sehingga seorang bidan dikucilkan di kommunitas masyarakat tersebut.

8. Upaya meningkatkan status kesehatan wanita
Bidan tidak hanya menolong persalinan,tapi juga mengadakan upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan status kesehatan bagi wanita tersebut.

Sumber : Perkuliahan minggu pertama Semester 1 akbid ypsdmi garut

5 Benang Merah Dasar Dalam Asuhan Kebidanan

1. Pengambilan keputusan
Menjadi seorng bidan harus konsisten, harus sesegera mungkin mengambil keputusan apa A atau B supaya penanganan pasien tidak akan terlambat. 

2. Asuhan sayang ibu dan bayi
Seorang bidan harus memiliki jiwa penyayang dan sensitif terhadap pasiennya, apa jadinya jika seorang bidan tidak memiliki sifat penyayang, pasti pasien tidak akan merasa nyaman dengan perlakuan bidan tersebut.

3. Pencegahan infeksi
Bdan harus bisa mencegah hal-hal yang beresiko infeksi,sebagai contoh,sering dilakukan orang tua dahulu adalah melakukan sunat terhadap bayi wanita yang baru lahir, padahal sesungguhnya hal tersebut tidak boleh dilakukan karena bisa menimbulkan infeksi.

4. Pendokumentasian
Pendokumentasian dilakukan bidan bertujuan agar bidan memiliki rekam medis apa saja tindakan yang sudah dilakukan terhadap pasien, bila sewaktu-waktu ada pasien meninggal dan menuntut bidan tersebut.pendokumentasian tersebut sebagai bukti bahwa bidan tersebut telah melakukan tindakan sesuai dengan standar oprasional yang benar.

5. Rujukan
Rujukan dilakukan oleh bidan jika ada suatu hal yang sudah bukan menjadi wewenang bidan. Biasanya, bidan akan memberi rujukan ke dokter spesialis kandungan agar dapat di diagnosa lebih lanjut.

Sumber : Perkuliahan Semester 1 minggu pertama Akbid YPSDMI Garut

Monday, August 8, 2011

Tentang Bidan

Bidan adalah sebutan bagi orang yang belajar di sekolah khusus untuk menolong perempuan saat melahirkan.

'Definisi bidan' menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional / Kongres ICM. Definisi terakhir disusun melalui konggres ICM ke 27, pada bulan Juli tahun 2005 di Brisbane Australia ditetapkan sebagai berikut: Bidan adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar (register) dan atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.

Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

Bidan dapat praktik diberbagai tatanan pelayanan, termasuk di rumah, masyarakat, Rumah Sakit, klinik atau unit kesehatan lainnya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bidan

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More